Hak untuk Merasa

“But feelings can’t be ignored, no matter how unjust or ungrateful they seem.”
Anne Frank, The Diary of a Young Girl

“Biasanya apa yang membuat Rama sedih?”

“Kalau saya dimarahi.”

“Biasanya apa yang Rama lakukan saat sedih?”

“Saya menonton tv.”

“Apakah menonton tv membuat sedihnya hilang?”

“Tidak kak”

“Apa yang biasanya membuat Rama senang?”

“Saat bermain bola.”

“Kira-kira kalau Rama merasa sedih, apa yang bisa Rama lakukan untuk mengatasinya?”

“Bermain bola, kak.”

Itulah sepenggal percakapan pada saat belajar tentang berbagai jenis ekspresi perasaan. Sebagai pembuka diskusi perasaan ini, kami membuat prakarya jenis-jenis ekspresi yang dikembangkan oleh Marissa Ika Puspitasari dari Dreamdelion.

Ada ekspresi senang, sedih, marah, terkejut. Diskusi dengan adik-adik dilakukan bukan hanya agar adik-adik mengenali karakteristik perasaannya sendiri, tetapi juga agar mereka menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk merasa.

Mengenali perasaan adalah fondasi bagi kecerdasan emosional (EQ) yang baik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa EQ ini sangat membantu proses belajar anak, termasuk yang kognitif seperti matematika dan membaca.

Dalam buku Helping Children Succeed, Paul Tough menjelaskan bahwa anak-anak yang fondasi emosionalnya tidak kokoh akan kesulitan belajar di sekolah. Belajar itu membutuhkan pikiran yang jernih. Jika seorang anak tidak bisa mengenali perasaannya sendiri, ia akan kesulitan memahami pelajaran.

Penelitian yang Tough amati menyimpulkan bahwa belajar berhitung saja membutuhkan bukan hanya IQ, tetapi juga perasaan nyaman sehingga proses berpikir tidak terganggu oleh emosi yang sedang kacau. Hal ini tidak mengherankan karena cara kita memproses informasi adalah dengan melewati amigdala terlebih dahulu yang berkaitan dengan emosi baru masuk ke prefrontal cortex yang mengolahnya secara kognitif.

Agar anak bisa belajar memahami emosinya dengan baik, satu hal yang mutlak perlu ada adalah menyadari hak untuk merasa. Ada perasaan yang terasa membahagiakan seperti senang atau kagum. Ada juga perasaan yang tidak mengenakkan saat mengalaminya seperti sedih atau marah.

Namun tidak ada perasaan yang salah. Semua perasaan yang hadir ke dalam diri kita itu pasti benar. Itulah sebabnya kita perlu menyadari bahwa setiap anak, bahkan setiap dari kita sebagai orang dewasa pun, memiliki hak untuk merasa. Hak untuk mengalami setiap jenis emosi yang hadir. Karena merasa itulah yang membuat kita menjadi manusia. Merasa adalah hak yang perlu dipenuhi agar kita menjadi manusia yang seutuhnya.

Terkadang lingkungan sekitar anak membuatnya merasa tidak boleh merasakan emosi tertentu. Misalkan saat menangis karena tidak diberikan uang jajan, ia dimarahi karena mengekspresikan emosinya itu. Atau saat anak kesal, ia dimarahi karena tidak bisa berperilaku menyenangkan.

Padahal ia berhak untuk merasa sedih atau marah, atau apa pun perasaannya, lalu mengekspresikannya dengan cara yang mampu dia lakukan pada saat itu. Mengenai cara mengekspresikannya yang kita rasa kurang baik, kita bisa mengajarinya kelak saat emosinya sudah stabil. Itu butuh proses pembelajaran tersendiri.

Hak untuk merasa memerlukan lingkungan yang aman dan nyaman. Anak-anak butuh merasa bahwa orang-orang di sekitarnya tidak menyalahkannya saat ia mengalami emosi apa pun. Itulah sebabnya penting bagi kita sebagai orang dewasa di sekitarnya untuk mengakui berbagai jenis perasaan yang ada.

Mendiskusikan berbagai peristiwa yang membuatnya mengalami setiap jenis emosi, dengan lingkungan yang tidak menghakimi perasaan tersebut, diharapkan membuat anak memahami hak untuk merasa ini. Begitu hak untuk merasanya diakui, kita bisa mengajari cara mengekspresikan dan mengelola perasaannya.

Seperti dalam percakapan di atas. Saat sedih Rama bisa memilih untuk menonton televisi atau bermain bola. Kalau menonton TV, ia menjadi bertambah sedih dan menjadi korban atas  kejadian yang menimpanya. Namun saat ia aktif bermain bola, ia pun mengambil kendali atas perasaannya.

Keluarga kejarAURORA ini, akan selalu memastikan hak untuk merasa ini dimiliki oleh setiap anak dan mengajarkan mereka untuk mengelola emosi tersebut dengan baik. Lingkungan yang aman dan nyaman untuk merasa, bukankah itu rumah yang sesungguhnya kita inginkan?

You’re in the arms of the angel, may you find some comfort here.”
Westlife, Angel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *